“Eh, iya-yah..., kok aku gak sadar?”, Fano mendongakkan kepalanya sambil melap hidungnya dengan sehelai tissue berharap darahnya tak mengucur lagi.
“ Emang suka mimisan kayak gitu yah?”, tanya pito
“ Akhir-akhir ini sih emang sering kayak gini, gak tau juga kenapa bisa kayak gini.”,jawab Fano, kemudian entah mengapa tiba-tiba ia merasa sangat pusing, seolah-olah ada batu besar yang menghantam kepalanya. Fano pun mengerang kesakitan,
“Aaaaarggh..., sakit....”
“ Kamu kenapa, Fan??”, lagi-lagi, Pito terlihat panik melihat teman kesayangannya itu kesakitan.
“ Kepala gue...., kepala gue sakit banget......”, Fano menggenggam lengan Pito, tak lama kemudian, Fano pingsan.
****
“Adek sering mimisan?”, tanya seorang lelaki dengan jas putih dan stetoskop yang melingkar di lehernya.
“ Sebulan terakhir ini emang sering banget, dok.”, jawab Fano.
“ Sering pusing, sampai pingsan?”, tanya dokter itu lagi.
“ Pusing sih iya, tapi yang kemaren yang paling parah, sampai pingsan gitu.”
“ Hmm....”
“ Saya sakit apa, dok?” tanya Fano penasaran
“ Panggil orangtua kamu ke sini. Saya perlu bicara dengan mereka.”, ucap dokter dengan nada yang sangat misterius, membuat suasana semakin tegang.
“ Orangtua saya jarang banget pulang, kemaren aja berangkat ke Belanda, palingan sebulan lagi mereka baru balik. Dokter kasi tau saya aja...., emang saya sakit apaan sih dok??”, desak Fano, cemas. Perasaannya mulai galau.
“ Tapi ini berat untuk dihadapi sendiri, nak. Orangtua kamu harus ada di sini..., kita tunggu sampai orangtua kamu kembali ke Indonesia, baru saya kasi tau hasil general check up kamu ini...”, ucap dokter
“ Apapun kenyataannya, saya bakalan tabah kok, dok! Saya penasaran sekali dengan hasilnya...”, Fano semakin mendesak, dokter kelihatan mendesah.
“ Hhhh..., baiklah kalau itu mau kamu. Hasil general check up kamu 3 hari yang lalu menunjukkan bahwa..., kamu terserang penyakit kanker darah..., leukemia stadium akhir..”, Fano terpanah, ia terlihat berusaha mencerna kata-kata yang baru diucapkan dokter tadi.
“Leukemia, dok...?”, ulang Fano, seolah tak percaya.
“ Iya, leukemia. Hasil pemeriksaan ini menunjukkan bahwa kadar sel darah putih kamu lebih banyak daripada sel darah merah kamu. Jadi....”
“Dok.....,dokter pasti becanda kan...?”, Fano tergagap.
“ Sungguh saya tidak pernah berani untuk bercanda dengan hal-hal seserius ini.”
“ Tidak..., ini tidak nyata..., gue cuma mimpi....”, ujar Fano dengan suara yang bergetar. Dokter itu lalu menepuk-nepuk pundaknya.
“ Ini nyata, nak. Kamu yang sabar yah...., orangtua kamu mesti tau hal ini.”
“Mereka tak perlu tau,karena mereka memang gak mau tau...”, ucap Fano, lirih.
****
Sebulan telah berlalu. Fano makin jarang ke sekolah. Tubuhnya mulai melemah. Botol-botol obat penghilang rasa sakit berjejer dengan angkuhnya di atas meja belajar Fano. Hari ini, Fano sedang beristirahat lagi di rumah karena rasa sakit kepalanya tak kunjung sembuh. Hari itu juga, ayah dan ibunya baru tiba dari perjalanan panjang mereka di Belanda. Ibunya lalu masuk ke dalam kamarnya.
“ Halo, sayang....! liat, mami bawa oleh-oleh apa dari Belanda...?”, oceh Ibunya tak karuan. Fano tetap beristirahat sambil memainkan blackberrynya.
“ Eh Mami. Tumben pulang.”, ucap Fano singkat.
“ Mami rindu banget ama kamu. Rasanya pengen ngelus-ngelus rambut kamu..”, ucap ibu Fano lembut sambil duduk di pinggir ranjang extra-large kepunyaan Fano.
“ Udahlah..., gak perlu peratiin Fano. Fano udah biasa dengan ketidakhadiran mami di samping Fano.”, Fano terdengar sinis. Ibunya kaget.
“ Kamu kok ngomong gitu sih, sayang...? Mami bener-bener rindu loh sama kamu....”, ibunya kini mulai mengusap-mengusap kepala Fano, tapi Fano lalu menepis tangan ibunya.
“ Gak usah sok perhatian.”, Fano bangkit dari ranjangnya kemudian dengan terhuyung-huyung, ia lalu keluar dari kamarnya. Ibunya mengikuti dari belakang.
“ Kamu kok loyo banget? Kamu sakit yah?”, ujar ibunya dari belakang, Fano cuma menggeleng sambil terus berjalan. Ketika sampai di ruang makan, ia lalu duduk dan minum segelas air.
“ Kamu sakit sayang...., tuh bibir kamu pucat banget....! Mami periksa yah?”, ibunya mulai menyentuh kening Fano. Fano lagi-lagi menepis tangan ibunya, kali ini dengan sangat kasar.
“ Udah Fano bilang, gak usah sok perhatian!”, Fano meneriaki ibunya, kemudian keluar dari rumahnya.
“ Fano..., kamu kenapa sih sayang....?”
****
“Papi..., Fano kok aneh banget sih....?”, tanya ibu Fano sambil memainkan anak rambutnya. Ia kini sedang menikmati waktu sore bersama suaminya.
“ Aneh gimana? Perasaan anak itu dari dulu aneh?”, jawab ayah Fano sinis.
“ Papi sih yang suka kasar sama dia! Jadinya kayak gitu deh...”, ibu Fano mulai terisak, ayah Fano lalu terdiam. Koran yang sedari tadi ia baca ia letakkan di atas meja.
“ Dia yang gak mau berubah seperti yang papi mau! Buat apa anak kayak gitu dihalusin???”, ayah Fano setengah berteriak, sang ibu lalu berlari masuk ke kamar dengan berlinangan air mata.
Papi cuma pengen Fano seperti kakaknya, Mi....
****
“ Kakak!!!kakak!!!!kakak ambil tangan Fano, kak....!!! kakak......!!!!”, Fano berteriak dengan sangat kencang sambil berlari, deburan arus sungai yang kencang telah menghanyutkan kakaknya, Nino.
“Kakak!!!!! Kakak jangan pergi!!!!!!”, Fano berhenti berlari, arus sudah terlalu deras, ia tak bisa lagi mengejar kakaknya. Hujan deras memperparah suasana sore itu.
Di suatu perspektif yang lain,
Ibunya mengerang-ngerang, tak terima anak kesayangannya pergi dengan cara yang begitu tragis. Ayahnya meracau tak jelas, tapi Fano bisa mendengar dengan jelas semua kata-kata itu...
“ Kenapa harus kamu, nak....??!!! kenapa harus kamuuu..........?????”, Fano tertunduk, perasaannya campur aduk.
****
“KAK NINO!!!”, Fano berteriak, ia terbangun dari mimpi buruknya. Mimpi yang entah mengapa akhir-akhir ini sering sekali menghampirinya. Baju yang dkenakannya basah akan peluh. Tak terasa, sudah 11 tahun berlalu setelah kejadian naas itu terjadi. Sejak saat itu, ayahnya sering menuntut macam-macam dari dirinya. Ayahnya sangat terobsesi untuk merubah Fano menjadi seorang Nino.
“ Fano gak bisa, pa..., Fano gak bisa jadi Kak Nino..., kenapa papi gak pernah ngerti.....?”
****
“Papi boleh masuk?”, ayahnya muncul dari balik pintu kamar Fano, Fano mengangguk.
“ Kamu sakit?”, tanya ayahnya singkat. Fano hanya menggeleng.
“ Kok gak sekolah?”, tanya ayahnya lagi.
“ Udah berapa hari papi gak liat kalender? Hari ini kan tanggal merah.”, ucap Fano santai, ayahnya terlihat menahan emosinya.
“ Ya udah. Papi cuma mau pamit, hari ini papi berangkat ke Tokyo. Ada pertemuan persatuan dokter se-Asia. Kamu baik-baik yah di rumah.”, ucap Ayahnya, kemudian pergi dari kamarnya. Fano lalu bangkit dan meraih segelas air di atas mejanya dan meminum beberapa pil. Tapi, entah kenapa tiba-tiba kepalanya sakit bukan kepalang, beberapa tetes darah mulai mengucur lagi dari hidungnya. Tak lama kemudian, ia ambruk.
****
Fano tersadar, ia kini berada di sebuah kamar beraroma obat-obatan yang menyengat. Terdapat beberapa benda elektronik melengkapi ruangan dingin itu. Bi Iyem yang setia menunggu di samping Fano, ikut terbangun ketika merasakan gerakan-gerakan Fano.
“ Eh Den Fano udah bangun....”, Fano tersenyum kaku.
“ Aku pingsannya berapa jam, bi?”, tanya fano dengan suara parau.
“ Waduh...., kata dokter bukan pingsan lagi! Tapi koma! Den Fano koma udah sebulan lamanya.”, Fano kaget, gue koma...?
“ Eh, Mami ama Papi pernah nelpon gak?”, bi Iyem menggeleng, Fano tersenyum kecut.
“ Gak ada yang peduli ama gue, buat apa gue idup?”, bi Iyem Nampak bingung, ia tak tahu harus menanggapi kata-kata Fano dengan cara apa.
****
Fano akhirnya keluar dari rumah sakit, setelah menolak untuk menjalani kemoterapi yang memungkinkan untuk menyembuhkan penyakit ganas yang telah menggerogoti seluruh tubuhnya itu. Ia sudah capai hidup di dunia, ia ingin mati saja.
Ia menidurkan badannya yang sudah teramat lemah. Sepertinya ia benar-benar sudah siap untuk mati. Diraihnya blackberry kesayangannya kemudian memutar sebuah lagu. Tak lama kemudian, suara berat nan syahdu kepunyaan Gerard Way terdengar sangat sedih. Kelopak mata Fano perlahan-lahan menutup, nyawanya seolah telah berada di kerongkongannya. Tak kurang beberapa detik, Fano menghembuskan napas terakhirnya. Ia telah pergi, pergi tanpa kesan terakhir pada orangtuanya. Sungguh ironis...
“...That if you say goodbye today,I'd ask you to be true.....,cause the hardest part of this is leaving you....”
Sumber : http://muxlim.com/blogs/kittunlova/cancer-sebuah-cerpen/
0 komentar:
Posting Komentar