Aku pernah berbicara suatu ketika dengan ibuku tentang pernikahan. Menurutnya, menjadi seorang pengantin adalah salah satu hari yang paling membahagiakan dalam hidup seorang perempuan. “Kamu akan terlihat saaangat cantik,” ujarnya saat itu. Dan memang benar adanya. Hari ini aku terlihat menawan dengan busana yang kukenakan.
Aku kembali mematut diri di depan cermin, memastikan penampilanku kali ini benar-benar sempurna. Seperti putri raja, mungkin. Atau, bisa jadi seanggun ratu kecantikan di atas panggung. Ah, entahlah. Yang jelas aku ingin terlihat cantik hari ini, persis seperti yang ibuku pernah bilang. Atau setidaknya, aku hanya ingin merasa cantik.
Aku melatih senyumku di depan cermin. Senyum simpul. Senyum manis. Senyum lebar. Semua sudah kucoba. Semoga fotografer yang bertugas akan menangkap senyum-senyum terindahku di pelaminan nanti.
Gaun yang kukenakan saat ini sebenarnya tak terlalu mewah, tapi entah kenapa aku merasa menjadi seorang wanita yang terlihat anggun ketika memakainya. Kebaya putih selutut dipadu dengan kain batik tulis berwarna coklat muda. Sangat simpel, tapi aku merasa istimewa.
Kudekapkan tanganku di dada, kurasakan detil bahan kebaya yang kupakai. Aku tersenyum. Sungguh cantik, persis seperti yang ibuku pernah bilang. Kuamati gaun itu dari kiri ke kanan, depan ke belakang. Kuputar perlahan badanku sambil mengamati bayanganku pada cermin besar di depanku. Punggungku telanjang, nyaris terlihat sempurna dikelilingi renda kebaya ini. Aku kembali tersenyum, membayangkan pujian tamu undangan yang hadir di pernikahanku nanti.
Pandanganku kembali tertuju pada cermin. Kudekatkan wajahku ke cermin itu, melihat-lihat kembali make up yang kupakai. “Cantik,” gumamku pendek. Kuraba pipiku. Terlihat sangat mulus. Bibirku yang merah terlihat mencolok tanpa kesan norak. Aku suka.
Tiba-tiba pintu kamarku diketuk. Ya, ini saatnya. Kembali kurapikan gaun itu, sambil terus tersenyum. Aku terlihat sangat cantik, persis seperti yang ibuku pernah bilang. Aku menoleh ke pintu, ternyata ia ada di sana, ibuku. Aku tersenyum kepadanya. Perlahan ia berjalan ke arah ranjang, kemudian duduk di atasnya.
“Seandainya ibu tahu yang sebenarnya, Nak,” ujarnya lirih.
Aku menggeleng, sambil berjalan menghampirinya.
“Seandainya ibu tahu siapa calon suamimu sesungguhnya”. Kali ini ia terisak.
Ingin rasanya aku memeluknya untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. Aku berusaha mengusap air mata yang perlahan mulai menetes, tapi nihil. Air mata ibu semu bagiku, begitu pun hadirnya. Sekuat tenaga aku berusaha merengkuhnya, tetap nihil. Yang kulihat hanya sosok ibuku yang semakin terisak sambil memeluk kebayaku erat-erat.
“Ibu, lihat aku! Aku terlihat sangat cantik, persis seperti yang ibu pernah bilang!” teriakku. Aku tak kuasa lagi menahan air mata yang terbendung. “Ibu, lihat aku! Lihat aku!”
Aku berusaha mengguncang tubuh ibuku, tapi ia bergeming. Isaknya semakin menjadi.
Tiba-tiba kakakku masuk, menghambur memeluk ibuku. Ia tampak berusaha menahan tangis.
“Istighar, Bu! Istighfar!” kata kakakku sambil mempererat pelukannya ke ibuku yang masih saja terisak. “Istighfar, Bu. Ikhlaskan Mala. Relakan kepergiannya”.
Aku terhenyak. Tatapan mataku kosong.
“Relakan Mala, Bu. Dia sudah tenang di sisi-Nya,” kata kakakku lirih sambil terus memeluk ibu. “Ibu tabah ya”.
Aku melangkah mundur perlahan. Peristiwa yang kualami semalam ternyata bukan mimpi buruk. Perkosaan brutal yang dilakukan calon suamiku semalam bukanlah mimpi buruk. Semua adalah nyata, termasuk rasa sakit yang kurasakan. Tak tega melihat tangis ibu dan kakakku yang semakin hebat, aku berjalan menjauh dari mereka.
“Ibu, Tuhan telah menjawab doaku. Kini aku merasa sangat cantik, persis seperti yang ibu pernah bilang. Terima kasih untuk mimpi indah tentang pernikahan yang selalu ibu ceritakan padaku. Semoga Tuhan segera menggantikan kebahagian ibu yang terenggut hari ini.”
Label
- aneh (2)
- Berita (3)
- cerpen (11)
- cinta (22)
- hantu (1)
- Kejadian Besar (2)
- komedi (2)
- misteri (5)
- motivasi (41)
- pendidikan (3)
- pengetahuan (18)
- potret kehidupan (3)
- potret pendidikan (2)
- potret remaja (1)
- puisi (1)
- renungan (70)
- Sains (4)
- software (2)
0 komentar:
Posting Komentar